Selasa, 02 Oktober 2012

road to xiamen china part3

Cek imigrasi lagi priksa barang bawaan lagi sinyal bunyi lagi periksa badan lagi...
Ketat bgt yah, di indonesia pasti g akan segininya ma pendatang, berkali2 diperikasa badan gara2 mencurigakan!! yang lain udah aq masih diperiksa termasuk rambut aq yg kelihatan mendol dr luar (mungkin dikira aq simpen bom di balik kerudung aq).

Sekali jalan sudah sampai tempat tujuan, Xiamen...
Pake pesawat dragonair dan seperti biasa baris belakang karena ekonomi, tp g da orang indonesia sama sekali. Waktu ke hongkong kayaknya banyak dech, ternyata pahlawan devisa itu cari duit di hongkongnya.



Gak sampai 2 jam penerbangan aq sudah bisa ngelihat daratan Xiamen yg sebenarnya tidak begitu subur karena kurang tampak warna hijaunya, tp salutnya antara pulau kecil ma Xiamennya itu dah pake jembatan kayak jembatan suramadu. Ada satu yg belum jadi yg bikin aq rada ngiler, tuh jembatan panjang bgt kl dibanding suramadu. Smoga kl dah jadi aq dikasi kesempatan untuk kembali kesana, Amiiinnnn...

oh ya aq mabok neh dipesawat, krn sedikit bergoncang n makanan yg aq makan g tau makanan apah. Jd critanya tuh makanan adalah roti isi kyk punya holland, masih panas tp rasa isi didalamnya itu yg bikin tenggorokan aq kekanan kekiri dibuatnya.
Nyampe badnara Xiamen aq langsung untah g karu2an dech, kata orang2 norak g biasa naik pesawat. Lah nek norak sing dr sby mpe hongkong aq naik opo? pesawat tlp?????

wkwwkwkwkwkkwwk... dasar bapa2 isenk bgt!!!


Kami disambut oleh Mr. Will Wu, masih muda bgt umurnya sekitar 22thn tp gak tau pasti. Sopan, Ramah, entah karena kita customernya ato memang dia spt itu. Bodo ah aq cmn pengen ketemu air alias mandi, muka dah babak belur dihajar perjalanan panajang surabaya-jakarta-hongkong-xiamen.

Kami diantar langsung ke hotel, nama hotelnya Wyndham. Jgn tanya bintang brp yg pasti bagus bgttttttt... Gmn g bgs wong semalemnya USD $100.
Saatnya cek in dech, aq dapet kamar sendiri registrasi pake paspor aq sendiri. gaya bener dech pokoknya, antara norak ma bangga jadi satu dah...




Memilih Fajar di Bumi Moro

Bukan menjadi kebiasaan saya untuk bangun sepagi ini di waktu weekend. Harus segera berpisah dengan bantal, guling dan boneka stitch kesayangan saya. Tanggal 15 september 2012 Sekitar pukul 04.30 wib saya sudah harus bergegas menuju Embong Trengguli untuk menemui driver yang akan mengantar saya menuju Bumi Moro. Tidak sendiri, ketika itu saya bersama 3 orang rekan kerja saya. Tidak ada obrolan berarti kecuali canda tawa ringan untuk mencegah kantuk selama perjalanan. Setiba di sana kami langsung menuju ruang yang sudah ditetapkan pada saat rapat sepekan lalu. Sudah sedikit ramai oleh wanita yang sedang mengantri untuk merias wajahnya. Kami pun ikut mengantri. Satu persatu semua disulap menjadi layaknya bidadari lengkap dengan kebaya dan kain. ya… saya sedang didaulat menjadi salah satu penerima tamu dalam acara hajatan salah satu bos. Senang rasanya menjadi bagian dalam perhelatan pernikahan. Menurut saya menjadi bagian acara membahagiakan juga akan menularkan rona bahagia. Bagaimana tidak, menurut pengamatan saya selama ini (maklum dari kecil sering banget diajakin ke acara kondangan kalau tidak menjadi bagian dalam acara kondangan) dalam acara pernikahan yang ada hanya senyuman kebahagiaan, kalaupun ada tetesan air mata bisa dijamin itu air mata haru bahagia. Mempelai berdua memancarkan rona bahagia, senyum selalu terkembang, berdiri dipelaminan bak putri dan raja. Diantara taburan bahagia di Bumi Moro terbesit tanya dalam hati “kapan saya seperti mereka?”. Pertanyaan yang saya simpan dan belum bisa saya jawab. Tiba-tiba salah satu rekan saya mencolek dan berkata “keren yah, kapan giliran aku?”. Saat itu saya hanya meng-ho’oh-kan saja kata-kata dia. Ternyata bukan hanya saya yang punya pikiran seperti itu. Saya yakin perempuan sebaya saya pasti punya pemikiran yang sama. Tapi ternyata tidak demikian ketika saya bertemu rekan saya yang satu lagi. Dia bilang dia sudah tidak ingin menikah, dia sudah menikmati kesendiriannya. Cukup tercengang juga mendengar pernyataan diluar biasanya. Apa yang ada dipikirannya sampai dia bisa berkata seperti itu? Entahlah, mungkin dia memiliki tujuan hidup lain selain menikah. Memilih untuk tetap sendiri menjalani hidup tanpa pendamping atau memilih untuk menjalani hidup dengan pendamping itu pilihan hidup setiap orang. Setiap pilihan pasti ada konsekuensi yang harus ditanggung. Begitu juga dengan saya memilih berhenti sejenak atau terus melangkah untuk menjemput fajar di Bumi Moro.